Friday, January 25, 2008

Saya Percaya, Padang Ekspres Sudah Dewasa

25 Januari 2008
Saya Percaya, Padang Ekspres "Sudah Dewasa"
Catatan Dahlan Iskan

SAYA tidak pernah mau menghadiri acara ulang tahun atau sebangsanya yang dilakukan anak-anak perusahaan grup Jawa Pos yang saya pimpin. Memang, ketika diadakan acara peletakan batu pertama pembangunan Graha Pena Padang (yang akan dipakai kantor Padang Ekspres) setahun yang lalu, saya berada di Padang. Namun saya tidak terlibat di acara itu.

Tuesday, January 22, 2008

Tunggu Tanda Tangan

22 Januari 2008
Tunggu Tanda Tangan
Catatan Dahlan Iskan

“KAPAN Pak Harto meninggal dunia?,” tanya teman saya yang sebenarnya amat dekat dengan keluarga mantan presiden Indonesia itu.
“Tunggu Pak SBY menandatangani surat pengampunan,” jawab saya sekenanya, karena memang tidak tahu sikap sebenarnya Presiden Indonesia yang sekarang, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

Wednesday, September 26, 2007

Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya

September 26, 2007
Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya (Sebuah Penutup)
Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (32-Habis)
Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id

ADA kesan yang mendalam bahwa sakit saya yang parah kemarin-kemarin itu karena saya kerja terlalu keras. Seorang ibu sampai menasihati anaknya begini: Jangan kerja terus seperti itu. Nanti seperti Pak Dahlan Iskan!

Tuesday, September 25, 2007

Setelah Transplantasi, Kian Tidak Jelas Hitungan Umur Saya

September 25, 2007
Setelah Transplantasi, Kian Tidak Jelas Hitungan Umur Saya
Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (31)
Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id

UMUR berapakah saya sekarang?
Tepatnya saya tidak tahu. Apalagi setelah melakukan transplantasi liver ini.

Kakak sulung saya memang pernah mencatat tanggal kelahiran saya. Yakni di balik pintu lemari kayu yang kasar. Ditulis dengan kapur lunak, diambilkan dari kapur yang biasa dipakai nenek untuk makan sirih. Itu bukan lemari pakaian karena kami tidak perlu lemari untuk pakaian. Baju kami, sekeluarga, tidak lebih dari sepuluh. Cukup disangkut-sangkutkan di paku yang menancap di dinding. Juga karena kami tidak bisa beli lemari. Lemari yang ada itu bikinan bapak sendiri untuk menyimpan apa saja: kaleng bekas, piring seng untuk makan, cobek (mangkuk terbuat dari tanah), dan leper (tempat mengulek sambal, terbuat dari tanah), dan sebangsanya. Makanan juga disimpan di situ -kalau kebetulan ada.

Monday, September 24, 2007

Banyak Faktor Keberhasilan, tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat

September 24, 2007
Banyak Faktor Keberhasilan, tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat
Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (30)
Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id

MENGAPA operasi transplantasi liver saya berhasil? Setidaknya sampai hari ini? Faktor apa saja yang memengaruhinya?

Jawabnya dua macam: mau yang pendek atau yang panjang. Mau yang religius atau yang ilmiah. Kalau mau pendek dan tampak religius, jawabnya ini: semua itu berkat tangan Tuhan. Selesai. Tidak perlu lagi tambahan apa-apa. Siapa yang bisa membantahnya? Siapa yang berani mempersoalkannya? SMS yang masuk ke saya pun hampir semuanya bernada begitu. Mereka mengatakan semua ini karena Allah. Hanya satu-dua yang mengatakan, “Semua ini karena Allah dan kepintaran para dokternya.”

Sunday, September 23, 2007

Sering Kaget Disapa Wanita Modis dan Ceria dalam Lift

September 23, 2007
Sering Kaget Disapa Wanita Modis dan Ceria dalam Lift
Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (29)
Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id

DI masa menanti waktu pulang ini, saya kehilangan dua teman wanita yang paling saya akrabi. Keduanya tinggal di lantai yang sama. Satu dari Jepang, satunya lagi dari Harbin, Tiongkok. Saya sering sekali mengunjungi kamar masing-masing dan ngobrol berlama-lama. Terutama kalau istri saya pergi belanja. Apalagi mereka senasib: juga hepatitis, sirosis, dan kanker hati. Kami biasa saling curhat.

Saturday, September 22, 2007

Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis B, Saingi Cucu

September 22, 2007
Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis B, Saingi Cucu
Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (28)
Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id

TEPAT sebulan setelah transplantasi, dokter sudah mengizinkan saya pulang. Jadi, 6 September yang lalu sebenarnya saya sudah bisa kembali ke Indonesia. Tapi, tim saya, terutama Robert Lai, minta saya lebih bersabar. Tim Surabaya juga demikian. Bahkan, ada yang minta biar enam bulan baru pulang juga lebih baik. Dia tahu, kalau pulang, saya pasti langsung lupa diri. “Kalau selama ini sudah sabar enam bulan, mengapa tambah dua bulan lagi tidak kuat?” tambah Ir Budiyanto, perancang Gedung Jatim Expo dan Rumah Cepat Tsunami Aceh, ketika menjenguk saya.

Friday, September 21, 2007

Liver Ganti, Khawatir Berubah Tak Bisa Menulis Baik

September 21, 2007
Liver Ganti, Khawatir Berubah Tak Bisa Menulis Baik
Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (27)
Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id

KARENA yang diganti ini adalah hati, apakah perasaan saya tidak berubah? Pertanyaan itu bahkan datang dari diri saya sendiri. Sejak sebelum dilakukan transplan sampai sesudahnya. Gara-garanya, literatur yang mengatakan bahwa banyak kasus si penerima organ akan mengalami perubahan.

Thursday, September 20, 2007

Transplantasi Berhasil, Istri Gembira karena Wajah Berubah

September 20, 2007
Transplantasi Berhasil, Istri Gembira karena Wajah Berubah
Pengalaman Pribadi menjalani Transplantasi Liver (26)
Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id

KALAU saja foto liver lama saya dimuat di koran tanpa penjelasan (foto-foto itu akan dimuat di edisi buku), setidaknya akan muncul tiga versi tanggapan. Orang di desa saya akan langsung mengatakan, “Pasti ini karena disantet”. Begitu jugalah dulu penilaian terhadap ibu saya. Juga terhadap kakak saya.

Wednesday, September 19, 2007

Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya

September 19, 2007
Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya
Pengalaman Pribadi menjalani Transplantasi Liver (25)
Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id

“SAYA nanti juga akan meninggal dengan wajah hitam,” kata saya kepada istri saya. Saya ingin menyiapkan mental istri saya bagaimana harus menahan rasa malu. Terutama di mata keluarga dan teman-teman pengajiannya. Istri saya memang aktif di perkumpulan Pengajian Wanita Surabaya (Pengawas), satu perkumpulan yang amat besar dan aktif. “Saya nanti akan seperti Cak Nur,” tambah saya.