Wednesday, August 19, 2009

Ekstrem Kanan Kiri Oke, tapi Tengah Memimpin

Rabu, 19 Agustus 2009
Ekstrem Kanan Kiri Oke, tapi Tengah Memimpin
Soemarsono, Golongan Kiri, dan Pergolakan Seputar Proklamasi

Cara memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 seperti itu memang sangat khas cara berpikir kita sampai sekarang: Yang penting merdeka dulu! Bagaimana rumitnya urusan setelah itu baru dipikirkan kemudian. Cara berpikir begitu juga terlihat ketika terjadi reformasi pada 1997/1998. Pokoknya reformasi dulu. Urusan rumit setelah itu dipikir kemudian. Karena itu, pikiran lain yang dilontarkan tokoh seperti Dr Nurcholish Madjid tidak laku. Maklum, waktu itu gelora untuk melakukan reformasi luar biasa besarnya. Bukan hanya gerakan bawah tanah sebagaimana yang terjadi menjelang proklamasi kemerdekaan RI, tapi sampai ke gerakan demo besar-besaran secara terang-terangan: Reformasi sekarang!

Pers Harus Perbaiki Diri Setiap Saat

Rabu, 19 Agustus 2009 , 14:25:00
Pers Harus Perbaiki Diri Setiap Saat

JAKARTA - Ketua Umum Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Dahlan Iskan menegaskan pers yang baik dan demokratis ada pers yang selalu memperbaiki diri setiap saat. Sementara kehadiran SPS saat ini hanya bersifat membantu penerbit yang mau maju dan selalu memperbaiki diri secara sungguh-sungguh untuk setiap kesalahan yang dilakukan.

Tuesday, August 11, 2009

Memangnya Dia Bisa Merobek Bendera Itu Sendirian

Selasa, 11 Agustus 2009
Memangnya Dia Bisa Merobek Bendera Itu Sendirian
Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya (3-Habis)

Setelah hampir 25 tahun tinggal di Sydney, Australia,  Soemarsono sempat ke Surabaya. Tujuh tahun yang lalu. Yakni ketika dia ke Jakarta untuk menengok anak-anaknya. Kali ini dia ke Indonesia sebagai orang asing. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Kota Surabaya. Kota yang pada 1945 melakukan pertempuran besar dan dialah salah seorang tokoh utamanya. Dia juga sempat ke Jalan Peneleh untuk melihat rumahnya yang bersejarah itu.

Monday, August 10, 2009

View dari Kamar 1808

Senin, 10 Agustus 2009 , 08:30:00
View dari Kamar 1808
Mobil Harus Diendus Keliling oleh Anjing

JW Marriott Jakarta sudah "hidup" lagi. Sehari kemarin, dua pesta  pernikahan diselenggarakan di hotel yang dua kali dibom oleh teroris itu.  Wedding party kedua, yang diadakan di ballroom, bahkan dihadiri seribu lebih undangan.

Rangkulan-Bisikan Amir Syarifuddin Bikin Lemas

Senin, 10 Agustus 2009
Rangkulan-Bisikan Amir Syarifuddin Bikin Lemas
Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya (2)

Saya juga baru tahu dari Soemarsono tentang latar belakang sebenarnya mengapa pertempuran Surabaya dulu terjadi. Selama ini saya hanya tahu bahwa hari itu tentara Sekutu mendarat kembali di Surabaya, lalu disangka bahwa Belanda akan menjajah kembali Indonesia. Pemuda Surabaya tidak senang atas kenyataan itu, lalu terjadilah pertempuran dahsyat yang membuat Surabaya menjadi Kota Pahlawan itu.

Sunday, August 9, 2009

Selamatkan Bung Tomo dari Amuk Pemuda

Minggu, 09 Agustus 2009
Selamatkan Bung Tomo dari Amuk Pemuda
Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya (1)

Berikut ini adalah tulisan serial CEO Jawa Pos Dahlan Iskan yang menyebabkan laskar Islam seperti FPI, PII, dan sejenisnya berang. Bagi mereka, tulisan ini jelas-jelas membela PKI dan antek-anteknya. Kini, Jawa Pos berhadapan kembali dengan laskar ini setelah sebelum2nya sudah pernah. (REDAKSI)

Adik-Adik yang Membanggakan

Minggu, 09 Agustus 2009
Adik-Adik yang Membanggakan
Tidak Dilengkapi Ending yang Baik

Menyaksikan siaran langsung penyerangan yang dilakukan polisi terhadap rumah yang dihuni buron teroris kakap Noordin M Top di Desa Beji, Temanggung, Jumat sore sampai Sabtu siang kemarin, perasaan saya campur aduk: mula-mula tegang, lalu menjengkelkan, berkembang ke rasa bangga dan berakhir agak kecewa.

Tuesday, August 4, 2009

Ide Besar dari Bukit Halimun

Selasa, 04 Agustus 2009
Ide Besar dari Bukit Halimun

Akhirnya sampai juga saya ke Luwuk. Bahkan, bisa dua malam berada di calon ibu kota Provinsi Sulawesi Timur ini karena batalnya kedatangan pesawat yang akan membawa saya keluar dari Luwuk kemarin.Saya tidak menyangka Kota Luwuk seramai dan sedinamis ini. Ketika memutuskan akan ke Luwuk, saya sudah siap dengan keadaan yang serba minim. Ternyata Kota Luwuk, meski berstatus kecamatan, lebih besar dan lebih dinamis dibanding Gorontalo. Alamnya juga lebih indah dan hijau.